SELAMAT DATANG di WARALABA AYAM PENYET.... Ambil Peluang Usaha AYAM PENYET... SEKARANG!!!!

CARA MEMASAK AYAM PENYET SECARA UMUM

Saturday, October 23, 2010

Resep Kepiting Saus Tiram, Masakan Seafood Paling Enak


Resep Kepiting Saus Tiram, Masakan Seafood Paling Enak


Resep Kepiting Saus Tiram - Berbicara tentang kepiting, apakah anda suka Kepiting? Makanan yang berbahan utama Kepiting ini biasanya dimasak saus tiram, lada hitam, dan asam manis. Meskipun daging Kepiting tidak se banyak daging ayam ataupun sapi namun bagi para pecinta Kepiting tak akan mempermasalahkan seberapa besar isi dagingnya.

Kepiting memang bukan salah satu makanan yang disajikan setiap hari di rumah santapan nikmat, namun tak ada salahnya anda mencoba Resep Kepiting yang lezat. Mencoba masakan Kepiting dengan tangan sendiri pasti lebih puas karena porsi dan bumbu yang di inginkan sesuai selera hingga dapat mendapatkan cita rasa yang disukai lidah kita. Masak Kepiting sendiri juga lebih menguntungkan karena dijamin lebih ekonomis dari pada kita makan di resto seafod.

So rasa masakan Kepiting apalagi Kepiting Saus Tiram dapat memberikan rasa yang luar biasa dan sensasi saat memakannya berbeda dengan makan masakan seafod lainnya. Rasa manis, asam, pedas nya dari Kepiting Saus Tiram menjadi santapan yang wajib bagi para pencinta seafod.

Tips pertama yang harus kita perhatikan adalah pemilihan Kepiting saat kita akan membelinya. Pilihlah Kepiting yang masih segar dan sehat. Kepiting yang sehat terlihat sangat lincah saat bergerak. Saat kita membeli Kepiting, lebih baik bilang kepedagangnya untuk melepaskan tali yang mengikat Kepiting tersebut agar terlihat bagaimana kondisinya masih hidup apa sudah mati , barulah kita beli.

Oke bagi para pecinta seafod terutama yang menyukai Kepiting, kali ini saya akan berbagi Resep Kepiting Saus Tiram yang nikmat, lezat dan gak pake ribet. Langsung saja mari kita simak dengan seksama Resep Kepiting Saus Tiram nikmat dan lezat yang akan kita coba.

Resep Kepiting Saus Tiram
Kepiting Saus Tiram
Bahan Kepiting Saus Tiram :

6 ekor kepiting segar
5 sdm saus tomat
4 sdm saus tiram
3 sdm saus sambal botolan
2 sdm cabai merah yang sudah digiling (tidak juga gak apa-apa)
Merica bubuk secukupnya
Air secukupnya
Gula pasir secukupnya
Garam dan penyedap secukupnya
Minyak Goreng secukupnya

Bumbu Halus Kepiting Saus Tiram :

5 biji cabai rawit merah (tumis layu)
5 biji bawang merah (tumis)
3 siung bawang putih (tumis)
2 cm jahe (haluskan)

Cara Membuat Kepiting Saus Tiram :


  1. Rebus Kepiting sampai matang, lalu belah Kepiting menjadi 2 bagian
  2. Panaskan wajan yang berisi minyak goreng, kemudian masukkan semua bumbu halus di tumis sampai harum
  3. Tambahkan saos tiram, saos tobat, cabai merah giling dan sisa bahan lainnya aduk hingga merata
  4. Masukkan Kepiting rebus, aduk-aduk hingga merata, dan masak sampai kuahnya sedikit mengental agar bumbu meresap kedalam daging Kepiting
  5. Jika sudah matang, angkat dan sajikan diatas piring atau mangkuk saji, bisa dihias sesuai selera


Bagaimana, mudah kan cara memasaknya. Demikian salah satu Cara Membuat dan Resep Kepiting Saus Tiram yang lezat dari kami. Semoga resep masakan ini dapat bermanfaat. Selain masakan seafood ada juga resep masakan lainnya,

Friday, October 15, 2010

Cara Memulai Usaha Ayam Goreng


Pertumbuhan bisnis makanan dan minuman di berbagai daerah memang tak bisa dipandang sebelah mata. Tingginya minat pasar dan besarnya keuntungan yang dijanjikan, membuat sebagian masyarakat mulai tertarik untuk menekuni bisnis makanan dan minuman sebagai peluang usaha yang cukup potensial. Tidaklah heran bila kini berbagai macam menu makanan serta minuman kreatif mulai disajikan pelaku usaha untuk memanjakan lidah para konsumennya.

Saat ini tidak hanya restoran-restoran besar saja yang mulai bermunculan untuk mengusai pasar di bisnis food and beverage. Para pedagang tenda kaki lima pun tidak mau kalah bersaing, sehingga tak jarang kita menemui berbagai macam makanan dan minuman menarik yang sengaja dijajakan para pedagang di sepanjang jalan raya yang ramai dilalui warga. Biasanya  para pelaku bisnis kuliner di Indonesia menjajakan aneka jenis makanan ringan (camilan), aneka macam kue, masakan tradisional maupun internasional, sampai beragam variasi minuman dingin ataupun panas yang diangkat sebagai produk unggulan untuk mendapatkan untung besar setiap bulannya.

Nah, bagi Anda yang tertarik menekuni bisnis makanan dan minuman yang peluangnya semakin mantap. Pada pekan ini sengaja kami informasikan salah satu peluang bisnis makanan yang memiliki banyak penggemar, yaitu menu ayam goreng tulang lunak.

Konsumen
Berbagai masakan dan makanan hasil olahan ayam menjadi kegemaran hampir semua orang. Selain ayam goreng kentucky dan ayam bakar, saat ini olahan ayam goreng tulang lunak menjadi salah satu menu baru yang banyak diminati konsumen. Wajar adanya bila menu ini digemari banyak pelanggan, sebab tidak hanya tekstur dagingnya saja yang terasa lembut namun tulang ayamnya juga bisa dimakan karena lunak dan empuk.
Info Bisnis
Pada awalnya masyarakat hanya mengenal bisnis bandeng presto yang memiliki keunggulan duri lunak. Namun kini dengan bantuan mesin pengolah pangan yang semakin inovatif, tulang ayam yang dulunya cukup keras bisa diolah menjadi lebih lunak setelah dimasak dengan bantuan panci presto.

Sebelum memulai peluang bisnis ayam tulang lunak untungnya tidak kalah enak, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda persiapkan.

   1. Langkah pertama yang perlu Anda siapkan yaitu memilih lokasi usaha yang strategis. Anda bisa menyewa tempat di sekitar pusat keramaian, misalnya saja dekat dengan perkantoran, kampus, sekolah, mall, di kios-kios kantin, atau bisa juga membuka tenda di pinggir jalan raya.
   2. Persiapkan peralatan dan perlengkapan usaha yang Anda butuhkan. Mulai dari perabot masak, gerobak atau etalase, peralatan makan, sampai meja dan kursi untuk para konsumen.
   3. Ciptakan menu baru sebagai produk andalan Anda. Misalnya saja menawarkan ayam goreng kremes tulang lunak. Jadi selain tulang ayamnya yang lunak, konsumen juga dimanjakan dengan tepung kremes yang Anda sajikan.
   4. Tentukan harga yang sesuai dengan target pasar Anda. Bila Anda membuka bisnis makanan di kantin atau di pusat keramaian, Anda bisa menawarkan harga mulai dari Rp 10.000,00-Rp 20.000,00/porsi. Namun, bila Anda menjajakannya di warung tenda kaki lima maka patokan harga bisa Anda turunkan maksimal Rp 15.000,00 per porsi.

Resep ayam tulang lunak

Asumsi : resep untuk 6 orang

Bahan:
- 1 ekor ayam
- 50 gram gula jawa (disisir halus)
- 1 sdm air asam jawa (kental)
- 2,5 liter air kelapa
- 5 lembar daun salam
- 4 cm lengkuas, (memarkan)
- Minyak goreng

Bahan Bumbu :
- 6 siung bawang putih
- 5 butir kemiri
- 2 sdt garam

Cara membuat:

   1. Potong ayam menjadi 2 bagian atau belah membujur dadanya dan tekan hingga terbuka lebar. Lumuri bumbu halus hingga rata .
   2. Taruh ayam dalam panci presto. Tuangi 1 liter air kelapa, beri gula, air asam, daun salam, dan lengkuas.
   3. Bila sudah siap, tutup panci presto, kunci dan keraskan tutupnya sampai rapat. Masak di atas api besar hingga tulang ayam benar-benar lunak.
   4. Dinginkan panci, buka tutupnya, tiriskan ayam.
   5. Selanjutnya goreng ayam dalam minyak panas dan banyak hingga dagingnya berubah warna menjadi kuning kecokelatan dan kering.
   6. Ayam tulang lunak siap dihidangkan dengan nasi putih, sayur lalapan, dan sambal.

Kelebihan Bisnisayam goreng
Sampai hari ini bisnis ayam goreng presto masih belum banyak dijalankan masyarakat, sehingga persaingan pasar antar sesama pedagang belum begitu ketat. Meskipun begitu, Anda tidak boleh lengah dengan peluang yang masih terbuka lebar. Sebaiknya optimalkan bisnis Anda dan ciptakan menu baru yang menjadi ciri khas bagi bisnis tersebut. Dengan menawarkan keunikan rasa dan tekstur tulang ayam yang lunak kepada para konsumen, diharapkan bisnis makanan yang Anda jalankan semakin mudah dikenali masyarakat umum dan berhasil menarik perhatian para pelanggan.

Disamping pesaingnya yang masih belum begitu banyak, menu olahan ayam telah mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Sehingga semua lapisan masyarakat menyukai menu olahan ayam dan menjadikannya sebagai salah satu lauk favorit dalam segala suasana. Hal ini tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha, sebab peluangnya masih terbuka lebar dan minat konsumennya pun masih sangat besar.

Kekurangan Bisnis
Selain menawarkan keuntungan yang cukup besar, ada beberapa kendala yang sering menghambat para pelaku usaha untuk menjalankan bisnis ayam goreng tulang lunak. Salah satunya yaitu harga beli panci presto yang cukup mahal, sehingga tidak semua pelaku usaha bisa membeli peralatan tersebut untuk menghasilkan menu ayam tulang lunak yang cita rasanya lezat. Kendala berikutnya yaitu harga bahan baku yang sering naik turun. Selama ini harga daging ayam di pasaran belum bisa stabil, terkadang harganya bisa naik hingga 50% dan tak jarang pula bisa turun sedikit lebih murah. Hal ini tentunya cukup merepotkan para pelaku usaha, sebab mereka harus pintar-pintar mengatur keuangan agar bisnisnya tidak merugi dan konsumen tidak berpaling ke pedagang lain.
Strategi Pemasaran

Untuk membantu pemasaran produk ayam tulang lunak yang Anda produksi, pertama-tama berikan nilai lebih pada cita rasa makanan yang Anda buat. Pastikan bumbunya meresap ke dalam daging dan tulangnya benar-benar empuk, sehingga konsumen tidak perlu ragu lagi untuk kembali menikmati menu andalan di warung Anda. Strategi pemasaran lainnya yang bisa Anda terapkan yaitu memberikan merek unik dan menggambarkan cita rasa kelezatan menu yang ditawarkan. Cantumkan merek tersebut pada banner atau spanduk yang ada di depan lokasi usaha, agar konsumen tertarik mampir menikmati cita rasa ayam tulang lunak yang Anda sajikan.

Guna mendukung promosi produk, Anda juga bisa membuat pamflet, brosur, maupun poster dan membagikannya di sekitar lokasi usaha. Untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, Anda juga bisa memanfaatkan situs jejaring sosial untuk menyebar luaskan promosi produk ke para saudara, rekan-rekan Anda maupun masyarakat umum yang memanfaatkan situs-situs tersebut. Semakin banyak informasi yang Anda sebarkan, maka semakin besar pula peluang pasar yang Anda ciptakan untuk memperluas pemasaran bisnis ayam tulang lunak.

Kunci sukses
Menjaga cita rasa produk menjadi tugas utama Anda dalam menjalankan bisnis makanan dan minuman. Karena itulah, tingkatkan pengetahuan dan kemampuan Anda dalam memasak ayam goreng presto dan ciptakan kreasi menu baru lainnya yang bisa mendukung popularitas bisnis Anda. Contohnya saja mulai menambahkan menu baru seperti ayam bakar tulang lunak, ayam goreng crispy tulang lunak, menciptakan aneka jenis sambal dengan cita rasa nendang, dan masih banyak lagi strategi sukses lainnya.

Analisa Ekonomi

Modal awal
Sewa tempat usaha per tahun                    Rp 15.000.000,00
Etalase                                        Rp  1.500.000,00
Panci presto 20 liter                          Rp  3.500.000,00
Peralatan masak (kompor, wajan, dll)           Rp  1.000.000,00
5 Meja dan 25 kursi                            Rp  7.500,000,00
Peralatan makan (piring, gelas, sesndok, dll)  Rp  1.000.000,00 +
Total                                          Rp 29.500.000,00

Penyusutan Peralatan
Etalase : 1/60 bln x Rp 1.500.000,00           Rp  25.000,00/bln
Panci presto : 1/36 bln x Rp 3.500.000,00      Rp  97.200,00/bln
Meja dan kursi : 1/60 bln x Rp 7.500.000,00    Rp 125.000,00/bln
Peralatan masak dan makan :
1/36 bln x Rp 2.000.000,00                     Rp  55.600,00/bln +
Total                                          Rp 302.800,00/bln

Biaya operasional per bulan
Belanja bahan harian :
Ayam: Rp 25.000,00 x 10 kg                     Rp 250.000,00
Beras : Rp 7.500,00 x 10 kg                    Rp  75.000,00
Sayur lalapan                                  Rp  20.000,00
Sambal dan bumbu                               Rp  50.000,00
Kemasan kardus, plastik, dll                   Rp  10.000,00 +
Total belanja per hari                         Rp 405.000,00

Biaya belanja per bulan :
Rp 405.000,00 x 26 hari                     =  Rp 10.530.000,00
Gas elpiji 3 kg (@ Rp 17.500,00 x 10 buah)     Rp    175.000,00
Biaya sewa tempat per bulan :
Rp 15.000.000,00/ 12 bulan                =    Rp  1.250.000,00
Gaji karyawan @ Rp 750.000,00 x 2 orang        Rp  1.500.000,00
Biaya listrik                                  Rp    150.000,00
Biaya transport @ Rp 10.000,00 x 26 hari       Rp    260.000,00
Biaya promosi                                  Rp    350.000,00
Biaya penyusutan alat                          Rp    302.800,00 +
Total                                          Rp 14.517.800,00

Omset per bulan
Penjualan per hari rata-rata 75 porsi
dengan harga jual Rp 10.000,00
= Rp 10.000,00 x 75 porsi x 26 hari   =        Rp 19.500.000,00

Laba bersih per bulan
Rp 19.500.000,00 - Rp 14.517.800,00            Rp 4.982.200,00

ROI (Return of Investment)
(modal awal : laba bersih per bulan)   =       ± 6 bulan

Demikian artikel yang dirilis bisnis ukm. semoga bermanfaat bagi pembaca warta-usaha sekalian


Thursday, October 14, 2010

9 PERTANYAAN WAJIB SEBELUM MEMBELI HAK WARALABA


Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian.

9 PERTANYAAN WAJIB SEBELUM MEMBELI HAK WARALABA

S. Muharam
SMfr@nchise, June 2003

John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, menyatakan bahwa waralaba merupakan konsep pemasaran yang paling berhasil selama sejarah umat manusia. Di Amerika Serikat setiap delapan menit sekali dibuka satu outlet waralaba. Hampir 40% dari usaha retail dijalankan dengan konsep waralaba. Di negara yang lebih muda perkembangan waralabanya, misalnya Malaysia, konsep waralaba hanya menguasasi 5% dari total industri retail.

Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian. Akibatnya semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli hak waralaba. Namun sayangnya data yang ada menunjukkan bahwa peluang sukses waralaba di Indonesia hanya mencapai sekitar 60% saja. Bandingkan dengan di Amerika Serikat yang dapat mencapai diatas 90%.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada calon pembeli hak waralaba (calon franchisee), berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menggali apakah waralaba cocok untuk dirinya atau tidak. Terdapat 10 pertanyaan yang harus dievaluasi, yaitu:

1. Apakah kita bersedia mengambil resiko menjadi seorang wirausaha?
Bagi yang terbiasa menjadi karyawan, kemudian banting stir menjadi pemilik; tentunya pola kerja, sikap dan resiko yang akan dipikulnya berubah 180 derajat. Jam kerja bukan lagi 40-60 jam seminggu namun akan bertambah menjadi 60-70 jam per minggu bahkan lebih. Sudah siapkah kita menghadapi semua ini?

2. Apakah kita akan menyukai cara berbisnis dengan format waralaba?
Banyak franchisee gagal dalam berusaha karena pada saat membeli hak waralaba, ia hanya membayangkan untuk menjadi kaya dan mendapatkan banyak uang. Namun setelah bisnisnya berjalan, ia merasa tertekan dan tidak menyukainya. Akhirnya usaha tersebut gagal.
Paradigma yang menyatakan bahwa memiliki bisnis sendiri berarti kita memiliki kebebasan dalam berkreasi dan mengaktualisasikan diri, harus dibuang jauh-jauh. Jika ingin membeli hak waralaba, kita, walaupun pemilik, harus suka untuk diatur oleh franchisor. Jika kita tipe orang yang tidak suka diatur orang lain, maka waralaba bukanlah bisnis yang tepat.

3. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dan berinteraksi dengan orang-orang?
Usaha waralaba banyak terkait dengan hubungan orang ke orang. Hubungan dengan karyawan, pemilik dana, franchisor, suplier maupun pelanggan. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dengan orang banyak? Jika ya, maka usaha waralaba mungkin cocok untuk kita.

4. Apakah kita memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba?
Banyak usaha waralaba gagal karena kekurangan modal kerja di tengah jalan. Jadi untuk meningkatkan peluang sukses, lebih baik jika kita memiliki modal lebih banyak dari yang disyaratkan oleh franchisor. Untuk itu paling tidak kita musti memperhitungkan modal kerja untuk 6 bulan sampai satu tahun ke depan.

5. Apakah kita telah mempelajari semua dokumen yang berkaitan dengan aspek hukum dari franchisor?
Umumnya sebelum kita memutuskan untuk membeli hak waralaba, Franchisor akan memberikan dokumen penawaran yang dinamakan Franchise Offering Circular. Dalam PP No 16 Tahun 1997 dijelaskan di pasal 3 ayat 1, bahwa di dokumen ini harus tercantum paling sedikit hal mengenai:
a. Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai kegiatan usahanya;
b. Hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang menjadi objek Waralaba;
c. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba;
d. Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;
e. Hak dan kewajiban Pemberi dan Penerima Waralaba;
f. Pengakhiran, pembatalan, dan perpanjangan perjanjian Waralaba serta hal-hal lain yang perlu diketahui Penerima Waralaba dalam rangka pelaksanaan perjanjian Waralaba.

Selain itu dalam PP yang sama Pasal 3 ayat 2, dicantumkan pula bahwa Pemberi Waralaba (Franchisor) wajib memberikan waktu yang cukup kepada Penerima Waralaba (Franchisee) untuk meneliti hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Di Amerika Serikat, tenggang waktu ini lamanya minimum 10 hari kerja.

6. Apakah Franchisor yang kita minati merupakan perusahaan yang solid, liquid dan sukses?
Franchisor wajib memberikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kepada calon pembeli hak wralabanya. Laporan ini paling tidak membrikan informasi keuangan untuk periode 3 tahun. Selain sisi keuangan, kita juga mesti menilai apakah merek yang akan kita beli cukup dikenal dan memiliki image positif di pasar?

7. Apakah Franchisee yang ada sekarang secara umum gembira dan sukses atas usaha mereka?
Tanyakan pada franchise yang ada saat ini apakah mereka gembira dan puas atas putusan mereka membeli hak waralaba tersebut? Apakah investasi tersebut menguntungkan mereka? Jika jawaban kedua pertanyaan tersebut Ya, mungkin brand waralaba tersebut layak untuk dibeli.

8. Apakah anda menyukai staff franchisor yang mensupport anda?
Salah satu kunci sukses dari waralaba adalah adanya support dan bantuan yang terus menerus dari franchisor melalui staff franchise support mereka. Untuk menciptakan sinergi, maka kita harus cocok dengan staff tersebut. Jika tidak coba diskusikan dengan franchisor apakah dapat dicarikan alternatif staff penganti?

9. Apakah kita mendapat dukungan dari keluarga?
Menjadi franchisee bukanlah pekerjaan paruh waktu, namun peklerjaan full time yang menyita waktu pribadi dan waktu keluarga. Apakah keluarga kita mendukung dalam hal ini?

Jika jawaban atas 9 pertanyaan tersebut positif, maka jangan sia-siakan peluang yang disediakan oleh waralaba. Selamat menjadi kapitalis baru!

Good luck

***

Tuesday, October 12, 2010

Mitos Seputar Bisnis Waralaba (1)


Dalam merencanakan bisnis apa pun, anda tak bisa mengandalkan informasi yang didapat hanya selintasan. Meski 95 persen bisnis franchise sukses, namun terdapat sejumlah mitos yang berpotensi menjerumuskan “franchisee” pada kegagalan.

Hal ini mungkin terjadi, jika entrepreuneur memasuki bisnis franchise hanya dilandasi ekspektasi tinggi namun kurang memahami realitas bisnis sesungguhnya.

Karena itu, sikap realistis dan kehati-hatian penting diperhatikan ketika hendak membuka bisnis baru, baik dengan merek yang sudah “established” maupun yang dirintis dari awal.

Selain menimbang pro dan kontra tentang bisnis franchise tertentu, anda bisa melakukan survei pendahuluan. Jangan gampang menerima pendapat “orang lain” dan pertimbangkan baik-baik apa yang dikatakan kepada anda termasuk yang dijelaskan “franchisor”.

Mitos 1: Franchise adalah garansi kesuksesan dalam dunia bisnis
Realitas: Alasan pokok keberhasilan franchise disebabkan persyaratan mereka yang ketat (rigorous). Misalnya, banyak franchise yang mensyaratkan investasi besar.

Banyak investasi amat substansial nilainya. Karena itu, hanya entrepreuneur yang serius saja yang boleh mengikat kontrak.

Dari sekian banyak yang membeli hak franchise dan terjun ke dalam tersebut, tak semuanya didukung aset yang memungkinkan mereka bisa menunggu imbal balik investasi.

Faktanya, seringkali diperlukan waktu cukup lama bagi sebuah franchise sampai menghasilkan keuntungan. Hal ini disebabkan investasinya besar, royalti, dan biaya lainnya. Karena itu, kekurangan modal (undercapitalization) kerap menjadi penyebab kegagalan franchise.

Mitos 2: Anda bisa menjadi bos
Realitas: Meski anad menikmati kelebihan sebagai pemilik bisnis, namun anda masih dibatasi oleh sistem operasi yang digariskan franchisor. Contohnya, jam operasi bisnis, peralatan dan perlengkapan yang disetujui, serta perangkat pemasaran.

Mitos 3: Membeli franchise tak terlalu mahal ketimbang merintis bisnis sendiri
Realitas: Biaya awal untuk membeli franchise kadang nilainya sama dengan membangun bisnis sendiri dari bawah.

Hal ini wajar jika nilai bangunan, peralatan, dan perlengkapan dibandingkan dengan franchise fee (yang meingizinkan pemakaian nama, logo, merek dagang, dan dalam kasus tertentu material pemasaran). Lalu ditambah dengan keuntungan yang masih harus dikurangi royalti.

Tentu saja alasan ini tak perlu menyurutkan anda. Kenyataannya, kunci mengelola franchise yang menguntungkan adalah menemukan peluang bisnis yang benar-benar tepat untuk anda. (bersambung)

Wednesday, October 6, 2010

10 tips memilih lokasi yang tepat


Tingkat keberhasilan usaha Anda sangat ditentukan oleh lokasi, lokasi dan lokasi
Salah satu keputusan yang sangat penting sebelum memulai bisnis waralaba adalah memilih lokasi yang tepat. Sebab, lokasi ikut berperan menentukan tingkat kesuksesan usaha Anda.
Jika tidak atau belum memiliki bayangan seberapa strategis lokasi yang ingin Anda pilih, sebaiknya meminta kepada franchisor untuk memberi gambaran tentang lokasi itu. Atau, mintalah nasehat kepada franchisor dimana sebaiknya lokasi yang tepat untuk usaha Anda.
Biasanya, franchisor melakukan riset pasar sebelum memberikan persetujuan kepada franchisee. Riset ini salah satunya mengenai trade area franchise untuk mengetahui secara demografis potensi usaha dan informasi yang berhubungan dengan lokasi.
Tidak ada salahnya jika Anda meminta lebih rinci gambaran dan potensi lokasi yang direncanakan. Berikut beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi.
1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk menjadi salah satu indikator besarnya potensi pasar usaha yang ingin Anda geluti, meskipun hal ini belum menjadi ukuran final. Anda bisa menanyakan kepada franchisor, berapa total jumlah penduduk atau rumah tangga yang berada dalam wilayah dagang Anda? Apakah area itu masih memiliki ruang untuk tumbuh? Apakah area itu sudah sangat padat oleh lokasi perumahan atau apartemen dan apa efeknya terhadap franchise? Berapa lama populasi/penduduk itu ada di area itu?
2. Penghasilan
Jika kepadatan penduduk tidak linear dengan daya beli masyarakatnya, maka berarti lokasi itu tidak tepat. Karena itu, perlu Anda cermati bagaimana penghasilan penduduk di area trade Anda. Anda perlu mengetahui, berapa rata-rata pendapatan keluarga di area itu? Berapa income penduduk yang ditargetkan dari usaha Anda? Apakah lingkungan dekat menyukai jika mereka ditawarkan produk dari usaha franchise Anda?.
3. Jumlah usaha
Adakalanya, lokasi yang dipilih merupakan pusat atau sentra perdagangan. Nah, apakah banyaknya usaha berpengaruh kepada lokasi? Apakah tipe bisnis di area itu menggunakan produk atau service yang ditawarkan franchise?
4. Tempat
Ada beberapa tipe tempat yang bisa dipilih untuk usaha Anda seperti mal, sentra usaha, perumahan, pinggir jalan dan sebagainya. Anda perlu menanyakan, apakah kebanyakan franchisee yang sukses berada di lokasi franchise seperti di dalam mal, di bagian yang paling ramai, di bagian terpisah dari mal, stand atau bangunan tersendiri atau di sentra industri? Franchisor harus dapat memberikan informasi mengenai tipe-tipe tempat ini.
5. Jumlah Traffic
Berapa banyak kendaraan yang lalu lalang di lokasi itu per harinya? Apakah orang yang lalu lalang akan dapat melihat tanda bisnis (plang) Anda? Apakah lokasinya mudah diakses?
6. Pusat kedatangan
Jika lokasi berada di bagian mal, kebanyakan pusat lalu lalang yang terbaik adalah di outlet-outlet makanan. Kadang-kadang, di sebrang jalan mal juga menjadi tempat yang di penuhi orang lalu lalang dan biasanya harga sewanya juga lebih murah. Bisa juga lokasinya di rumah sakit, kampus atau di pusat-pusat orang datang.
7. Akses karyawan
Bisa saja lokasi yang jarak tempuhnya sangat jauh menjadi kontra produktif buat karyawan Anda. Karena itu, lokasi sebaiknya terbilang cukup dekat terutama bagi karyawan utama Anda.
8. Zona
Jika lokasi yang Anda pilih bukan daerah perdagangan atau tidak cocok dengan usaha Anda, sebaiknya tidak dipaksakan. Maka, perlu juga Anda menanyakan, apakah zona lokasi cukup pantas untuk bisnis Anda.
9. Kompetisi
Pertimbangkan juga tingkat kompetisi usaha yang ingin Anda jalankan. Jika di lokasi tersebut sudah jenuh dengan usaha yang menawarkan produk sejenis, bisa jadi lokasi itu menjadi tidak strategis buat Anda. Perlu juga Anda mengenal apa kompetisi yang terdekat dengan usaha Anda?
10. Appearance
Anda pasti ingin usaha Anda terlihat berwibawa dan lingkungan di sekeliling lokasi tidak mengganggu usaha franchise Anda. Tanyakan kepada franchisor, apakah area lokasi cukup bersih dan terkendali? Apakah lingkungannya juga cukup baik?
Selanjutnya, jangan pernah segan-segan meminta franchisor membantu Anda bernegosiasi untuk mendapatkan lokasi yang strategis dan harga sewa yang lebih murah. Karena bisa saja dalam kasus tertentu, usaha tersebut dibutuhkan, misalnya oleh real estat untuk menjaring pasar.
Sumber : Majalah Info Franchise Indonesia
www.majalahfranchise.com
Memupuk jiwa entrepreneurship

Tahukah Anda bahwa negara kita memerlukan berjuta pengusaha baru? Ya, betapa memilukan negara yang konon kaya raya, karena tanahnya subur namun rakyatnya tak kunjung makmur ini, memiliki berpuluh juta pengangguran. Ya, ada lebih dari 40 juta penganggur di negara kita tercinta ini.
Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Memupuk jiwa atau semangat kewirausahaan adalah salah satu cara, karena kita kadung memiliki ‘mental block’ mencari rasa aman semata, mencari pekerjaan setelah tamat sekolah adalah menjadi cita-cita hampir semua angkatan kerja!. Lalu bagaimana merubah mind set pencari rasa aman (Security seeker) untuk menjadi pencari kesempatan (Opportunity seeker), bahkan menjadi pencari tantangan (Challange seeker)?.

Memupuk jiwa kewirausahaan haruslah dimulai dari hal yang paling mendasar ini. Bagimana cara mendidik anak-anak di rumah dan di sekolah, agar berani memiliki impian menjadi bos dirinya sendiri, berani melihat peluang-peluang baru, berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab akan resiko pilihan yang diambilnya, berani serta memiliki semangat yang tinggi, hingga tidak mudah putus asa !. Mental dan sikap positif semacam inilah yang dimiliki oleh banyak pengusaha yang telah berhasil.

Kebanyakan kita ingin cepat menjadi kaya raya secara instant, sebagian besar angkatan kerja mencita-citakan jadi pegawai negeri atau pegawai swasta! Padahal apabila mengutip Leveraging Time To Create Wealth karya KC.SEE, dari 100 orang kaya, 74%nya berasal dari pengusaha,10%nya lagi dari para profesional, dan hanya 10% saja yang berasal dari karyawan, serta HANYA 6% saja mereka berasal dari pegawai pemerintah, baik itu anggota MPR maupun DPR dan Presiden sekalipun! Jadi tidak disangsikan lagi bahwa untuk menjadi kaya raya jauh lebih baik menjadi pengusaha dari pada menjadi karyawan, apalagi pejabat pemerintah yang dengan kekayaan yang diraihnya memiliki kekhawatiran terkena jebak KPK.

Namun, mengapa orang tidak atau takut menjadi pengusaha?
Dari berbagai seminar, workshop dan diskusi dengan berbagai latar belakang mereka yang ingin dan memiliki minat, bahkan sudah menjadi pengusaha, ternyata memiliki beberapa hal yang menghambat semangat mereka untuk memulai atau mengembangkan usaha, yang kemudian menjadi takut memulai usaha. antara lain:
  1. Ide/Gagasan: Sulit atau tidak memiliki Ide/Gagasan ingin memiliki usaha apa
Sebenarnya, dari pengalaman banyak pengusaha yang berhasil, umumnya mereka melihat peluang dari berbagai sumber, mereka melihat peluang dari kebutuhan sehari-hari, dari keahlian, dari hobi, dari pengalaman dan dari bagaimana mereka melihat segala sesuatu secara kritis. Mereka berani memulai sesuatu yang baru, atau memodifikasi sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang berbeda. Ide/Gagasan usaha datang dengan berbagai cara!, antara lain carilah orang lain yang memiliki ide/gagasan cemerlang, mengapa tidak?.
  1. Modal : Merasa tidak memiliki modal cukup untuk memulai usaha
Umumnya melihat modal semata-mata berupa UANG, sehingga mereka tidak atau belum kunjung berani memulai usaha karena belum memiliki uang cukup untuk dijadikan modal usaha. Sesungguhnya, modal usaha bukan semata-mata uang, karena banyak pengusaha yang berhasil memulai, mengembangkan usaha karena mereka memiliki modal lainnya, misalnya: Ide usaha , Keahlian, Semangat dan kemauan keras untuk berhasil.
  1. Produk/Jasa yang akan ditawarkan:
Andaikan Ide/Gagasan usaha sudah dimiliki, masih adalagi pertimbangan bagaimana produk/Jasa akan dibuat, dikemas dan ditawarkan? Apabila kemampuan memproduksi barang/produk maupun jasa masih menjadi kebimbangan untuk memulai usaha, sekarang ada berbagai jenis pilihan usaha waralaba, yang tinggal kita pilih saja sesuai dengan minat dan kemampuan permodalan bukan?. Atau dapat saja melakukan tes pasar atas sesuatu yang ingin kita produksi atau tawarkan. Misalnya dengan melakukan tes produk, bisa dilakukan sendiri atau menggunakan jasa konsultan pemasaran.
  1. Pasar/Market
Banyak pengusaha pemula yang masih ragu kemana produk/Jasa akan ditawarkan. Belum memulai usaha sudah pusing memikirkan dan khawatir bagaimana kalau produk/jasanya tidak laku, siapa yang akan menjadi pelanggan dsb. Hal ini menjadi perintang khususnya bagi yang belum memahami konsep pemasaran, tetapi hampir tidak ada pengusaha yang kini berhasil mengembangkan usahanya, dahulu telah memahami marketing plan, apalagi marketing strategi!. Karena begitu produk atau jasa diperkenalkan, maka dia akan menciptakan pasarnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya pilihlah produk atau jasa yang unik, yang memang memiliki sesuatu yang baru atau memiliki daya saing apabila dibandingkan produk/jasa sejenis.
  1. Lokasi usaha
Tidak sedikit calon pengusaha yang ragu-ragu karena tak kunjung dapat menentukan lokasi usaha, sungguh ironis untuk mengetahui bahwa banyak usaha yang kini telah menjadi perusahaan raksasa, dahulu dimulai di garasi rumah pemiliknya!. Bill Gate misalnya, memulai Microsoft dari garasi, banyak lagi pengusaha Indonesia yang memulai usaha dari tempat yang sederhana saja. Memang tidak dipungkiri bahwa lokasi sangat menentukan keberhasilan usaha, terutama untuk usaha retail, lokasi strategis adalah sarat utama, tapi siapa yang menyangka kalau roti pisang molen, dan braunis kukus Amanda yang terkenal di Bandung itu, dahulu dimulai dari rumah kecil di sebuah gang sempit yang bahkan tidak pasang papan nama?.


Masih banyak lagi sederetan kekhawatiran yang menghambat seseorang untuk memulai usaha, disamping 5 hambatan yang saya sebutkan diatas, namun kata kuncinya memang hanya satu, yakni mind set yang dimiliki seseorang untuk berhasil menjadi pengusaha, yakni suatu pola pikir positif, untuk berani berkreasi dan mengambil keputusan, pola sikap positif untuk berani mengambil resiko, serta pola tindak positif untuk mulai melangkah! Inilah yang saya sebut sebagai 3 P (positif berfikir, positif bersikap dan positif bertindak). Karena berfikir positif saja tidak cukup, sikap dan tindakan lah yang membedakan seorang menjadi pemenang atau menjadi seorang pecundang!.
Sumber : Majalah Info Franchise Indonesia
BEP Bisa Dipercepat Lho


Setiap pelaku usaha menginginkan secepatnya meraih untung. Karena sejatinya, itulah tujuan bisnis. Adakah cara meraih untung yang cepat sehingga bisnis yang dimulai bisa meraih BEP dalam waktu singkat?
Salah satu performa bisnis franchise yang selalu dipertanyakan oleh para franchisee sebelum membeli hak waralaba, biasanya menyangkut berapa lama bisnis tersebut bisa BEP (break event point). Poin ini sangat wajar dipertanyakan, karena setiap pebisnis punya motivasi yang sama, yakni meraih untung. Apalagi di bisnis franchise, sebisa mungkin harus terukur seperti kapan BEP-nya. Jika tidak, siapa yang mau membeli franchise.

Namun, adakah cara yang bisa mempercepat BEP dalam waktu yang lebih singkat? Menurut Tung Desem Waringin, semua bisnis, semua outlet franchise sangat mungkin untuk bisa meraih BEP secara cepat. Tetapi, ada beberapa tahapan dan persyaratan yang harus diperhatikan. Motivator bisnis yang biasa dipanggil TDW itu menyarankan pelaku bisnis untuk memperhatikan dua tahapan.

Tahap pertama, sebelum membeli franchise. Pada tahap ini, pelaku usaha harus mengamati beberapa hal. Pertama, bisnis yang dijalankan layak tumbuh. Di sini, franchisee harus jeli melihat model atau induk bisnisnya. Jangan hanya percaya pada pernyataan franchisor bahwa bisnis tersebut sangat menjanjikan. Sebab, tidak jarang para pelaku usaha yang langsung memfranchisekan usahanya sebelum meraih BEP. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin franchisee bisa menjalankan secara menguntungkan kalau franchisornya saja tidak mampu membuktikannya.

Jika BEP franchisor diperoleh dari menjual hak waralaba, bukan dari kinerja produknya, hal itu bukan bukti bahwa bisnis tersebut menjanjikan. Karena itu, sebuah bisnis harus berjalan sekitar 4-5 tahun sebelum difranchisekan. Cara ini untuk membuktikan bahwa bisnis tersebut sudah BEP dan sustain sebagai ukuran untuk mengestimasi kemungkinan waktu BEP yang bisa diraih oleh para investor (franchisee).

Mengapa hal ini penting? Karena bisnis yang dirancang tidak selalu harus berhasil. Menurut TDW, kemungkinan sebuah bisnis tidak berhasil di tahun pertama sangat besar. Dari 100 bisnis yang muncul, 80% mengalami kegagalan di tahun pertama. Sisanya yang 20%, itu pun tidak 100% akan berhasil. Dari yang 20% itu, 80%-nya akan mati juga di tahun
keempat. Sehingga di tahun kelima, yang bisa sustain hanya 4%. Disinilah pentingnya para franchisee harus melihat masa bertahannya sebuah bisnis.

Kedua, tungguin outlet franchisornya seharian. Cara ini untuk melihat bagaimana mereka (franchisor) menjual produknya dan untuk mengukur tingkat laku dan tidaknya produk yang dimiliki franchisor. Dalam hal ini, franchisee harus benar-benar waspada, jangan sampai hanya melihat kinerja penjualan produk di atas kertas saja. "Tongkrongin. Jadi harus lebih waspada, tidak sekadar hitungan di atas kertas saja. Lihat juga trennya slama 3 tahun, tahan atau tidak," kata TDW.

Ketiga, lihat pula sistem marketingnya. Menurut TDW, franchise yang bagus dan teruji adalah yang grafik ketika memulainya tinggi dan ramai lalu setelah itu stabil. Stabil karena bisnis tersebut sudah punya sistem untuk menggedor pasar ketika opening outlet-nya.
Pada tahap kedua, yakni setelah terlanjur beli franchise. Di sini franchisee bisa melakukan upaya untuk mempercepat BEP. Ada beberapa cara yang disarankan oleh TDW, diantaranya, pertama, marketing revolution. Langkah pertama ini agar bisnis ramai diminati konsumen. Dalam melakukan marketing revolution ini pelaku usaha harus fokus pada tiga hal yang disederhanakan menjadi USP, yakni:

1. Unlimited advanted (nilai tambah). Nilai tambah bisa berupa harga murah, parkir gratis dan juga hal-hal yang bisa membuat konsumen penasaran.

2. Sensational offer. Yakni tawaran yang lebih menggiurkan kepada konsumen untuk melakukan aksi pembelian. Contohnya seperti yang dilakukan Lion Air dengan program: “Terbang dengan Lion Air, pulang bawa BMW”. Nah, Sensational offer ini menurut TDW ada tiga, yakni hadiah, diskon dan limit. Limit mengundang rush. Dengan begitu, BEP bisa dengan cepat diraih.

3. Powerfull promise. Misalnya dengan memberikan garansi yang luar biasa.
Kedua, berikan penawaran yang konsumen tidak bisa menolaknya. Ketiga, copywriting yang harus mengena dengan target market. Keempat, gunakan 12 jurus yang cukup ampuh dan sangat mengena terhadap market, yaitu, press release publishity, reference, endorshment, iklan utamakan dengan barter, direct sales, direct agent, direct mail, house benefesary/ada induknya, telemarketing, joint venture, canvasing/pameran dan seminar.

Menurut TDW, cara-cara untuk mempercepat BEP tersebut tidak sulit. Kuncinya, harus bisa jualan. Dan itu harus mengikuti konsep yang disebut TDW sebagai marketing revolution. "Sangat gampang," kata penulis buku Financial Revolution tersebut.

Kuncinya, tandas TDW, terletak pada marketing, kontrol dan SDM. Tiga hal ini menjadi satu kesatuan. Untuk mengukur SDM itu baik, bisa dilihat dari produktifitasnya yang harus terkait langsung dengan penghasilannya. "Tanpa kecuali, semua jenis usaha bisa mempercepat BEP. Syaratnya yang tadi saya ungkapkan," tandasnya.

Namun, jika produknya tidak mendukung, sistem marketingnya tidak jalan dan sales-nya tidak punya passion, akan menjadi kendala bagi bisnis yang dijalankan untuk meraih BEP secara cepat.
Sumber : Majalah Info Franchise Indonesia
www.majalahfranchise