SELAMAT DATANG di WARALABA AYAM PENYET.... Ambil Peluang Usaha AYAM PENYET... SEKARANG!!!!

CARA MEMASAK AYAM PENYET SECARA UMUM

Sunday, September 28, 2008

9 PERTANYAAN WAJIB SEBELUM MEMBELI HAK WARALABA PDF Print E-mail


By administrator, on 07-02-2008 16:59

Views : 848

Favoured : 19

Published in : Channel Highlight, Legal

Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian.

9 PERTANYAAN WAJIB SEBELUM MEMBELI HAK WARALABA

S. Muharam

SMfr@nchise, June 2003

John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, menyatakan bahwa waralaba merupakan konsep pemasaran yang paling berhasil selama sejarah umat manusia. Di Amerika Serikat setiap delapan menit sekali dibuka satu outlet waralaba. Hampir 40% dari usaha retail dijalankan dengan konsep waralaba. Di negara yang lebih muda perkembangan waralabanya, misalnya Malaysia, konsep waralaba hanya menguasasi 5% dari total industri retail.

Di Indonesia sendiri saat ini waralaba sudah mulai menunjukkan trend peningkatan dan kerap menjadi topik perbincangan bisnis baik di media maupun dalam praktek keseharian. Akibatnya semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli hak waralaba. Namun sayangnya data yang ada menunjukkan bahwa peluang sukses waralaba di Indonesia hanya mencapai sekitar 60% saja. Bandingkan dengan di Amerika Serikat yang dapat mencapai diatas 90%.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan panduan kepada calon pembeli hak waralaba (calon franchisee), berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menggali apakah waralaba cocok untuk dirinya atau tidak. Terdapat 10 pertanyaan yang harus dievaluasi, yaitu:

1. Apakah kita bersedia mengambil resiko menjadi seorang wirausaha?

Bagi yang terbiasa menjadi karyawan, kemudian banting stir menjadi pemilik; tentunya pola kerja, sikap dan resiko yang akan dipikulnya berubah 180 derajat. Jam kerja bukan lagi 40-60 jam seminggu namun akan bertambah menjadi 60-70 jam per minggu bahkan lebih. Sudah siapkah kita menghadapi semua ini?

2. Apakah kita akan menyukai cara berbisnis dengan format waralaba?

Banyak franchisee gagal dalam berusaha karena pada saat membeli hak waralaba, ia hanya membayangkan untuk menjadi kaya dan mendapatkan banyak uang. Namun setelah bisnisnya berjalan, ia merasa tertekan dan tidak menyukainya. Akhirnya usaha tersebut gagal.

Paradigma yang menyatakan bahwa memiliki bisnis sendiri berarti kita memiliki kebebasan dalam berkreasi dan mengaktualisasikan diri, harus dibuang jauh-jauh. Jika ingin membeli hak waralaba, kita, walaupun pemilik, harus suka untuk diatur oleh franchisor. Jika kita tipe orang yang tidak suka diatur orang lain, maka waralaba bukanlah bisnis yang tepat.

3. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dan berinteraksi dengan orang-orang?

Usaha waralaba banyak terkait dengan hubungan orang ke orang. Hubungan dengan karyawan, pemilik dana, franchisor, suplier maupun pelanggan. Apakah kita memiliki pengalaman sukses dalam membina hubungan dengan orang banyak? Jika ya, maka usaha waralaba mungkin cocok untuk kita.

4. Apakah kita memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba?

Banyak usaha waralaba gagal karena kekurangan modal kerja di tengah jalan. Jadi untuk meningkatkan peluang sukses, lebih baik jika kita memiliki modal lebih banyak dari yang disyaratkan oleh franchisor. Untuk itu paling tidak kita musti memperhitungkan modal kerja untuk 6 bulan sampai satu tahun ke depan.

5. Apakah kita telah mempelajari semua dokumen yang berkaitan dengan aspek hukum dari franchisor?

Umumnya sebelum kita memutuskan untuk membeli hak waralaba, Franchisor akan memberikan dokumen penawaran yang dinamakan Franchise Offering Circular. Dalam PP No 16 Tahun 1997 dijelaskan di pasal 3 ayat 1, bahwa di dokumen ini harus tercantum paling sedikit hal mengenai:

a. Pemberi Waralaba, berikut keterangan mengenai kegiatan usahanya;

b. Hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang menjadi objek Waralaba;

c. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi Penerima Waralaba;

d. Bantuan atau fasilitas yang ditawarkan Pemberi Waralaba kepada Penerima Waralaba;

e. Hak dan kewajiban Pemberi dan Penerima Waralaba;

f. Pengakhiran, pembatalan, dan perpanjangan perjanjian Waralaba serta hal-hal lain yang perlu diketahui Penerima Waralaba dalam rangka pelaksanaan perjanjian Waralaba.

Selain itu dalam PP yang sama Pasal 3 ayat 2, dicantumkan pula bahwa Pemberi Waralaba (Franchisor) wajib memberikan waktu yang cukup kepada Penerima Waralaba (Franchisee) untuk meneliti hal-hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Di Amerika Serikat, tenggang waktu ini lamanya minimum 10 hari kerja.

6. Apakah Franchisor yang kita minati merupakan perusahaan yang solid, liquid dan sukses?

Franchisor wajib memberikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kepada calon pembeli hak wralabanya. Laporan ini paling tidak membrikan informasi keuangan untuk periode 3 tahun. Selain sisi keuangan, kita juga mesti menilai apakah merek yang akan kita beli cukup dikenal dan memiliki image positif di pasar?

7. Apakah Franchisee yang ada sekarang secara umum gembira dan sukses atas usaha mereka?

Tanyakan pada franchise yang ada saat ini apakah mereka gembira dan puas atas putusan mereka membeli hak waralaba tersebut? Apakah investasi tersebut menguntungkan mereka? Jika jawaban kedua pertanyaan tersebut Ya, mungkin brand waralaba tersebut layak untuk dibeli.

8. Apakah anda menyukai staff franchisor yang mensupport anda?

Salah satu kunci sukses dari waralaba adalah adanya support dan bantuan yang terus menerus dari franchisor melalui staff franchise support mereka. Untuk menciptakan sinergi, maka kita harus cocok dengan staff tersebut. Jika tidak coba diskusikan dengan franchisor apakah dapat dicarikan alternatif staff penganti?

9. Apakah kita mendapat dukungan dari keluarga?

Menjadi franchisee bukanlah pekerjaan paruh waktu, namun peklerjaan full time yang menyita waktu pribadi dan waktu keluarga. Apakah keluarga kita mendukung dalam hal ini?

Jika jawaban atas 9 pertanyaan tersebut positif, maka jangan sia-siakan peluang yang disediakan oleh waralaba. Selamat menjadi kapitalis baru!

Good luck

Sumber http://www.franchise-indonesia.com/?c=fullnews&id=87

Tips

Tips kesiapan diri

Membeli waralaba jangan hanya tergiur nafsu. Cek kesiapan diri Anda

Ketika berencana untuk membeli hak waralaba, Anda barangkali merasa sudah siap menjalankan usaha tersebut. Namun jangan lantas keburu nafsu. Analisis diri Anda terlebih dahulu, apakah Anda memang benar-benar sudah siap berbisnis waralaba. Berikut panduan (pertanyaan) yang bisa menjadi ukuran paling akurat kesiapan Anda berbisnis waralaba.

1. Apakah Anda sudah siap menjadi seorang wirausaha? Asal tahu saja, bagi Anda yang terbiasa menjadi karyawan, pola kerja sebagai pemilik usaha berbeda jauh. Jam kerja bertambah dan resiko yang harus dipikul pun sangat berbeda. Siapkah Anda menghadapi semua itu?

2. Apakah Anda menyukai cara berbisnis dengan format waralaba? Jangan hanya membayangkan bisa kaya pada saat membeli hak waralaba, tetapi setelah berjalan merasa tertekan dan tidak menyukai pola bisnis waralaba. Anda bisa gagal. Cara pandang memiliki bisnis sendiri berarti memiliki kebebasan harus dibuang jauh.

3. Apakah Anda mampu membina hubungan dan berinteraksi dengan banyak orang? Menjadi pemilik usaha waralaba Anda dituntut untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang. Misalnya, hubungan dengan karyawan, pemilik dana, franchisor, suplier maupun pelanggan.

4. Apakah Anda memiliki modal yang cukup untuk membeli hak waralaba? Banyak usaha waralaba gagal karena kekurangan modal kerja di tengah jalan. Jadi untuk meningkatkan peluang sukses, sebaiknya Anda memiliki cadangan dana, tidak hanya modal yang disyaratkan oleh franchisor. Paling tidak Anda mesti memperhitungkan modal kerja untuk 6-12 bulan ke depan.

5. Apakah Anda sudah mempelajari dokumen yang berkaitan dengan aspek hukum dari franchisor?

6. Apakah waralaba yang Anda minati adalah perusahaan yang solid, liquid dan sukses? Anda harus mengetahui bahwa pemberi hak waralaba memiliki laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik. Paling tidak laporan keuangan ini membrikan informasi keuangan untuk periode tiga tahun. Selain keuangan, apakah merek waralaba yang akan Anda beli sudah dikenal publik dan memiliki image positif?

7. Apakah para franchisee yang lebih dulu dari Anda umumnya sukses dengan usaha mereka? Anda bisa menanyakan kepada mereka apakah mereka cukup puas dan usahanya menguntungkan?

8. Apakah Anda menyukai staff franchisor yang mensupport anda? Salah satu kunci sukses dari waralaba adalah support dan bantuan dari franchisor melalui staff franchise support mereka.

9. Apakah Anda mendapat dukungan dari keluarga? Jangan salah kaprah seolah-olah menjadi franchisee hanya melakukan pekerjaan paruh waktu. Penting bagi Anda mendapat dukungan dari keluarga.

Jika semua pertanyaan di atas positif buat Anda, maka peluang mendapatkan profit menanti Anda. Jangan tinggalkan kesempatan menjadi wirausaha yang sukses yang ditawarkan oleh waralaba. .
Dari berbagai sumber

APA ITU BISNIS WARALABA?


Ir. S. Muharam, BH
SMfr@nchise, January 2003


Waralaba digambarkan sebagai perpaduan bisnis "besar" dan "kecil", yaitu perpaduan antara energi dan komitmen individual dengan sumber daya dan kekuataan sebuah perusahaan besar. Waralaba merupakan pilihan untuk berwirausaha dan bereskpansi dengan resiko paling kecil. Secara umum waralaba merupakan alternatif jalan keluar yang relatif aman bagi :

  • orang-orang untuk terjun memiliki bisnis sendiri;
  • perusahaan-perusahaan untuk melakukan ekspansi atau pembukaan cabang secara efektif tanpa memunculkan overhead yang tinggi dan kerumitan manajemen yang biasanya berkaitan dengan pendirian sebuah cabang;
  • perusahaan untuk mengubah sistem cabang atau agensinya menjadi mesin pemasaran yang ramping dan tangguh.

Waralaba adalah suatu pengaturan bisnis dimana sebuah perusahaan (franchisor) memberi hak pada pihak independen (franchisee) untuk menjual produk atau jasa perusahaan tersebut dengan peraturan yang ditetapkan oleh franchisor. Franchisee menggunakan nama, goodwill, produk dan jasa, prosedur pemasaran, keahlian, sistem prosedur operasional, dan fasilitas penunjang dari perusahaan franchisor. Sebagai imbalannya franchisee membayar initial fee dan royalti (biaya pelayanan manajemen) pada perusahaan franchisor seperti yang diatur dalam perjanjian waralaba. Sebuah paket waralaba yang baik mampu membuat seseorang yang tepat bisa mengoperasikan sebuah bisnis dengan berhasil, bahkan tanpa pengetahuan sebelumnya tentang bisnis tersebut.

Untuk mengambarkan bagaimana sebuah bisnis waralaba berkembang disampaikan berikut ini. Pada awalnya waralaba dimulai dari keberhasilan usaha dari pemilik merek atau franchisor. Melalui format bisnis waralaba, franchisor akan menularkan keberhasilan usahanya - misalnya restoran siap hidang dengan ciri tersendiri - kepada franchisee. Franchisor sebelumnya telah melakukan dan membuat satu formulasi standar untuk sukses sesuai dengan pengalamannya. Secara sederhana sama halnya seperti seorang penjahit yang membuat pola untuk menghasilkan pakaian yang sejenis. Proses ini dilakukan melalui riset dan pengembangan konsep, promosi, aktivitas pemasaran, serta membangun suatu reputasi yang baik dan citra yang dikenal. Setelah berhasil menguji konsep tersebut bisa berjalan dan bisa direproduksi di lebih satu lokasi, franchisor kemudian menawarkan waralaba tersebut kepada calon franchisee.

Selanjutnya, seorang individu (atau kemitraan atau perusahaan) melihat peluang yang ditawarkan franchisor di atas dan setelah mengevaluasinya, memutuskan bahwa waralaba ini menguntungkan. Ia kemudian membeli waralaba dari perusahaan tersebut dengan membayar sejumlah biaya yang dikenal sebagai initial fee atau franchise fee. Sebagai imbalannya ia menerima hak untuk berdagang di bawah nama dan sistem yang sama, pelatihan, serta berbagai keuntungan lainnya. Sama halnya dengan memulai bisnis secara mandiri, franchisee bertanggungjawab untuk semua biaya yang muncul guna memulai usahanya ini. Perbedaannya adalah kemungkinan untuk mengeluarkan uang lebih rendah karena kekuatan jaringan yang dimiliki oleh franchisor.

Bila franchisee telah membuka restorannya secara teratur ia kemudian wajib membayar royalti, yaitu sejumlah persentase dari penjualannya kepada franchisor sebagai biaya mingguan, bulanan atau tahunan. Biaya ini adalah untuk layanan penunjang yang terus diberikan oleh franchisor. Saling kebergantungan antara pendapatan franchisee, layanan penunjang yang diberikan franchisor kepada franchisee, dan pendapatan franchisor yang didapat dari royalti merupakan faktor yang menjamin waralaba menjadi suatu sistem yang efektif -- karena setiap pihak ingin pihak lain berhasil. Kegagalan atas satu pihak berati kesulitan bagi pihak lainnya. Penulis pernah bekerja di satu master franchise waralaba #1 di bidangnya. Namun merek dan sistem yang terbukti terbaik dibidangya, tidak menjamin sukses waralaba tersebut di Indonesia. Kegagalan dalam membentuk hubungan yang harmonis antara master franchisee dengan para franchisee-nya membuat merek dan perusahaan terbaik ini gagal.

Pada tingkat terbaik, format bisnis waralaba sangat menguntungkan bagi kedua pihak. Franchisee berada di garis depan guna memikirkan cara-cara memaksimalkan penjualan dan keuntungan di outletnya sendiri, dengan terus menerus memperbaiki pendekatan dan strategi usahanya agar sesuai dengan kebutuhan pasarnya yang khusus. Sementara itu franchisor berkonsentrasi menjaga nilai kompetitif produknya, dan mendukung franchisee untuk memusatkan upayanya secara efektif. Untuk sampai kepada bentuk kerjasama seperti ini, hubungan franchisee-franchisor memerlukan:

  1. penerimaan total terhadap visi, misi, dan nilai bersama, baik oleh franchisor, franchisee dan staff mereka masing-masing;
  2. rasa saling mempercayai dan menghargai;
  3. hak dan kewajiban yang terdefinisi jelas;
  4. mempraktekan komunikasi yang baik di semua tingkat;
  5. memiliki dedikasi pada keberhasilan jangka panjang;
  6. saling memberi dukungan pada masa yang baik maupun buruk;
  7. saling menjaga standar dan prosedur operasi yang didefinisi dengan jelas;
  8. memberikan kontribusi pada pertumbuhan melalui umpan balik, riset, dan pengembangan serta promosi yang berlanjut.

Para calon franchisee potensial harus menanyakan diri mereka sendiri apakah hubungan seperti itu yang mereka ingin bina dengan franchisor mereka. Jika mereka tidak ingin atau tidak memiliki karakter untuk itu, lebih baik menjauhi bisnis waralaba. Karena format bisnis waralaba nantinya akan dirasakan "mengekang" kreativitas dan ego mereka.


Sumber: Sukses Membeli Hak Waralaba (SMfranchise, 1998)

Franchisee satisfaction is everything

By Administrator | June 30, 2007

Agar sukses mengembangkan bisnis franchise, upaya membangun dan menjaga kepuasan franchisee sangat penting. Kepuasan franchisee adalah komponen utama kesuksesan dari sebuah usaha franchise. Sudahkah franchisee Anda merasa puas berinvestasi di bisnis Anda?

Saya memperoleh pengalaman menarik ketika menghadiri sebuah pameran franchise Info Franchise Expo 2007 di Surabaya pada Februari lalu. Di sebuah coffee shop, saya ketemu dengan Hermawan sebut saja namanya, seorang franchisor bidang makanan. Lebih dari 3 Jam, saya habiskan waktu untuk diskusi ringan mengenai fenomena bisnis franchise di Indonesia.

Ada cerita yang menarik perhatian saya. Hermawan mengeluhkan, adanya mantan franchisee-nya yang banting setir menjadi franchisor sekaligus kompetitor. Kenapa bisa? Karena waktu itu kami memang kurang memberikan bimbingan, pelatihan & support yang maksimal. Oleh karenanya kurang siapnya infrastruktur kami mengakibatkan franchisee kami kabur. Selain itu juga, kami terlalu tergesa-gesa mem-franchise-kan bisnis kami, jadi banyak kendala setelah berjalan yang tidak bisa kami antisipasi.

Dari kisah Hermawan tersebut, ada yang bisa kita petik manfaatnya. Saya melihat bahwa bagi franchisor yang akan membangun sistem bisnis franchise yang kuat, tentu diperlukan upaya membangun dan menjaga kepuasan franchisee-nya. Ini penting, kenapa? Karena, franchisee bisa diibaratkan sebagai customer pertama Anda untuk wilayah tertentu. Seorang franchisee akan membawa ratusan bahkan ribuan pelanggan atau end user setiap bulannya. Sebaiknya perlakukan franchisee dengan baik dan saya yakin, outlet franchise Anda pasti akan cepat berkembang.

Kepuasan Franchisee adalah segalanya! Ada beberapa cara untuk mengetahui tingkat kepuasan franchisee. Salah satunya dengan melakukan Franchisee Satisfaction Survey.

Ada beberapa poin dalam melakukan survei yang perlu dicermati:
  • Sikap Untuk menilai tingkat kepuasan franchisee sangat penting, untuk mengenal sikap umum mereka (franchisee), kehidupan & seberapa senang mereka dalam menjalankan bisnisnya.
  • Hubungan Untuk membagun sebuah bisnis franchise tentunya sangat penting hubungan yang kuat antara franchisor & franchisee. Tentunya pertanyaan survei bisa meng-explore dimensi tersebut.
  • SistemMengukur sistem IT, administrasi dan keuangan. Apakah dalam keseharian menjalankannya seorang franchisee mudah menjalankannya.
  • Lingkungan kerjaLingkungan dimana orang bekerja adalah sangat penting terhadap kepuasan secara kesuluruhan.
  • FinancialSetiap pebisnis ingin mendapatkan keuntungan dan pengembalian modal yang cepat. Kepuasan financial dalam bisnis merupakan kunci utama kepuasan secara keseluruhan.
  • PemasaranMengukur program pemasaran yang sudah dijalankan apakah berdampak langsung terhadap franchisee.

Selain melakukan kegiatan survei, ada baiknya lakukan pertemuan tahunan, untuk berbagi ide, sekaligus sharing experience antara franchisee yang sukses dengan franchisee lainnya. Lakukan monitoring secara berkala harian, mingguan atau bulanan untuk memantau penjualan setiap outlet. Serta memberikan penghargaan kepada franchisee-franchisee sukses.

Pada akhirnya, Membangun dan menjaga kepuasan franchisee secara garis besar terangkum dalam 4 langkah sederhana: Komunikasi secara terbuka, cepat tanggap terhadap persoalan, tepat dalam mengambil keputusan & perlakukan franchisee Anda dengan rasa hormat. Selamat Berbisnis!

Salam Franchise,
Tri Raharjo
Pemimpin Redaksi
Majalah Info Franchise Indonesia

Sistem Monitoring pada Franchising

By Administrator | February 26, 2008

Sistem monitoring merupakan nyawa bagi franchisor. Kesalahan pada sistem monitoring bisa mengakibatkan kebangkrutan dan kejatuhan brand.

Jangan pernah meremehkan sistem monitoring. Bagi franchisor, ini adalah nyawa usahanya dan nyawa mereknya. Tanpa sistem monitoring yang baik, franchisor tidak akan tahu apa yang dilakukan terhadap usahanya. Justru dengan sistem monitoring, franchisor bisa mengarahkan franchisee untuk mengikuti standar yang diinginkannya. Karena biasanya, franchisee yang tidak mengikuti standar dari franchisor, umumnya gagal menjalankan usaha.

Menurut Royandi Junus, Pengamat franchise dari IFBM, sistem monitoring dalam franchising adalah cara franchisor menilai apakah pengetahuan yang di-transfer kepada franchisee telah dijalankan secara benar atau tidak. Apakah franchisee sudah menjalankan usahanya tersebut sesuai dengan SOP-nya atau tidak. Sebab, Franchising merupakan duplikasi experience. Jika sistem ini tak dilakukan, maka sulit meraih kesuksesan.

Dijelaskan, sistem monitoring juga merupakan cara agar franchisee menjalankan bisnisnya persis seperti yang franchisor lakukan. Dengan begitu diharapkan faktor kesuksesan akan lebih besar. “Franchisee yang sukses adalah franchisee yang bisa bekerja sama dengan franchisor. Dan itu bisa dibuktikan saat monitoring. Kalau dia tak bisa kerja sama dengan franchisor dalam artian tak meniru apa yang telah dikerjakan oleh franchisor tentunya kemungkinan kegagalan lebih besar dibandingkan kalau dia meniru franchisornya,” kata Royandi.

Franchisor yang tidak memiliki sistem monitoring, tandas Royandi, berarti dia telah mempertaruhkan brand-nya dan nama baik mereknya. Selain itu, sistem monitoring berkait juga dengan royalti. Setidaknya, sistem monitoring bisa menutupi ketakutan franchisor jika franchisee melakukan “kenakalan-kenakalan”. Kalau tidak ada sistem monitoring bagaimana franchisor tahu floting terutama dalam hal keuangan, sudah benar atau tidak,” katanya.

Keuntungan memiliki sistem monitoring yang baik, tutur Royandi, antara lain outlet franchisee akan beroperasi seperti halnya outlet-nya franchisor. Konsumen, tidak akan bisa membedakan apakah itu outlet yang dimiliki franchisee atau franchisor, karena sistemnya berjalan sangat serupa. Di mata konsumen itu benar-benar tak ada bedanya. Kedua, franchisor bisa menjaga satandar dan tipikal setiap outlet, sehingga brand image bisa terjaga. Ketiga, bisa menutupi ketakutan franchisor mengenai kesalahan operasional dan keuangan.

Rumitkah monitoring dijalankan? Menurut Royandi, sama sekali tidak. Hanya saja ini merupakan kebiasaan baru dalam suatu perusahaan, khususnya perusahaan yang baru menjadi franchisor. “Pekerjaan ini kan memang agak lain. Bayangkan, franchisee itu kan investor. Dia duduk setara dengan franchisor. Tapi dia adalah orang yang tak berpengalaman. Memberi tahu partner bisnis yang tak berpengalaman uniknya begitu. Kita tak bisa menyuruh. Mungkin kita hanya bisa membujuk tepatnya,” katanya.

Dan, untuk monitoring, lanjut Royandi, bagi franchisee bisa saja merasa seperti dimata-matai. Padahal monitoring itu intinya memberi supporting. “Jadi, yang mesti dibangun adalah bagaimana orang yang melakukan monitoring ini datang dan franchisee tau bahwa ia dibantu,” ungkapnya.

Monitoring biasanya dibantu dengan sistem IT. Tapi, pada kenyataannya, sistem IT yang ada di Indonesia ini rapuh. Karena biasanya, sistem IT yang sudah ada dibongkar-bongkar untuk kebutuhan tertentu. “Dan mestinya, franchisor menggunakan perusahaan IT yang sudah besar, dan establish yang telah melewati proses try and error,” kata Royandi.

Menurut Royandi, ada tips yang memudahkan franchisor melakukan monitoring. Yaitu disiplin. Disiplin sesuai waktu yang dikerjakan dan selalu ada laporannya. Nah, laporan ini harus selalu dibaca. Kadang, kata Royandi, laporan tak pernah dibaca sehingga hasil monitoring tak diketahui. Tahunya ketika sudah parah. “Makanya, di sebuah organisasi franchisor antara training, monitoring, dan operation harus di bawah satu decision,” katanya seraya menambahkan, franchisor harus tahu di mana kekuatannya dan di mana kelemahannya, karena setiap bisnis berbeda.

Royandi menjelaskan, monitoring yang buruk bisa saja mengakibatkan kebangkrutan. Sebaliknya, sistem monitoring yang baik bisa meningkatkan kinerja setiap outlet franchisee. Karena monitoring berarti juga bimbingan kepada franchisee. “Franchisor kan punya wawasannya. Dia mengerti bisnisnya. Dia tau aturan mainnya. Dia juga punya pengalamannya. Bila ada kecenderungan yang bisa membuat sales-nya naik, dia akan masuk ke sana. Begitu pun sebaliknya. Franchisee kan tak tau itu. Sedangkan franchisor kan punya pengalaman. Melalui monitoring dia bisa kasih tau franchisee, terutama bila terjadi suatu hal yang luar biasa,” kata Royandi.

Sumber: www.plasawaralaba.com

Pentingnya Training Managemen Pada Franchisor

By Administrator | April 8, 2008

Apa yang terjadi bila customer merasakan perbedaan antara outlet franchisee dengan owned outlet franchisor yang pernah atau biasa ia kunjungi? Customer A kesal karena sering harus menunggu lama di kasir suatu outlet franchisee, yang tidak pernah terjadi di outlet franchisor. Customer B merasakan minuman favoritnya di outlet yang baru dibuka tidak seenak di oulet yang biasa ia kunjungi. Customer C harus membuka pintu keluar sendiri dengan membawa belanjaan yang banyak, padahal di minimart franchisor pada situasi yang sama, pramuniaganya selalu ramah dan sigap dengan membantu membukakan pintu.

Bisa jadi customer-customer tersebut enggan kembali ke outlet franchisee, atau bahkan yang paling pahit, bukannya hanya mau kembali ke outlet franchisor tapi langsung pindah ke lain hati alias berpaling ke competitors yang sudah muncul dimana-mana. Hal tersebut wajar terjadi pada customer yang merasakan berkurangnya level of satisfaction, apalagi bila setelah berkunjung ke tempat competitors segala sesuatunya dirasakan lebih baik dan memuaskan. Pada situasi yang demikian, bukan saja income yang berkurang dari franchise dan berdampak pada franchisor, namun bisa mengakibatkan pula hilangnya brand image dari benak customer.

Yang perlu mendapat perhatian disini adalah bila penyebab kurang performnya franchisee karena kurang efektifnya training yang dilakukan oleh franchisor. Kurang efektifnya training bisa ditimbulkan dari berbagai faktor, misalnya metoda pengajaran yang tidak tepat, trainernya kurang kompeten, kurangnya alat peraga, materi tidak tuntas, tidak adanya evaluasi training, dan lain sebagainya.

Mungkin saja franchisor sangat aware terhadap pentingnya training, namun pada persiapan, pelaksanaan, maupun evaluasinya masih sangat lemah. Membiarkan hal ini terjadi akan berakibat repotnya franchisor sendiri, apalagi bila jumlah franchisee akan semakin bertambah. Karenanya, penerapan training management yang efektif perlu mendapatkan perhatian khusus sejak awal, atau bila terlanjur berjalan perlu dikaji serta diadakan perbaikan dan penyusunan kembali.

Ada berbagai cara dalam penerapannya. Salah satunya dengan menggunakan fungsi-fungsi yang terintegrasi pada Plan, Do, Check, dan Action (PDCA), dimana di dalamnya terkandung unsur pengendalian, perbaikan dan juga continuous improvement, yang mana akan sangat membantu franchisor menjalankan training yang cukup kompleks. Fungsi-fungsi tersebut dengan fase-fase di dalamnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

PLAN
Bagaimana suatu perusahaan yang telah dirancang bertahun-tahun dan berjalan sukses harus mentransfer ilmu kepada franchisee dalam waktu yang relatif singkat, merupakan tantangan dalam membuat perencanaan training yang efektif, khususnya pada set-up awal training. Ketiga fase di dalamnya harus dijalani, yaitu analysis, design dan development.

Pada fase Analysis, diawali dengan pemetaan proses bisnis dan bagian mana yang merupakan peran yang harus dijalani oleh franchisee. Tercakup di dalamnya adalah fungsi-fungsi, prosedur, job profile, product/service, sehingga akan muncul kebutuhan trainingnya secara lengkap, baik aspek knowledge, skill maupun attitude. Target trainee harus jelas atau siapa belajar apa, disesuaikan dengan kompetensi yang harus dimiliki.

Fase berikutnya adalah design yang meliputi objektif setiap lesson plan, termasuk penentuan metoda, sistematika, durasi, trainer, lokasi, standard evaluasi, dan peralatan. Untuk memudahkan, biasanya menggunakan acuan pertanyaan dengan 5W 1H.

Fase terakhir disini adalah development, yaitu pengembangan lesson plan menjadi manual training atau lesson module yang nantinya digunakan sebagai acuan pada setiap pengajaran, siapapun trainernya.

Bila tahap set-up telah dilewati dan sistem terbentuk, plan pada proses training selanjutnya lebih sederhana dan berfokus kepada persiapan pelaksanaan, kecuali bila diperlukan perubahan atau pengembangan

DO
Walaupun hanya satu fase di sini, yaitu implementation berupa training delivery, namun perlu kerjasama serta komitmen yang tinggi dari berbagai fungsi dan tingkatan management dalam menjalankannya secara total dan tuntas sesuai dengan plan yang telah disusun. Bila metoda yang direncanakan efektif, misalnya keseimbangan teori dan praktek pada on-site training serta pilihan trainer yang tepat, akan sangat membantu penyerapan materi oleh peserta training dari franchisee.

CHECK
Memeriksa apakah pelaksanaan training berjalan sesuai rencana merupakan inti dari fase evaluation pada fungsi ini. Evaluasi dilakukan terhadap dua aspek, yaitu pada pelaksanaan training itu sendiri dan penilaian tingkat penyerapan dari peserta terhadap materi. Yang terakhir ini biasanya berupa test pada akhir sesi atau observasi pada saat simulasi. Hal ini penting mengingat mereka yang akan menjalankan operasional franchisee, sehingga penguasaan pekerjaan lebih diutamakan.

ACTION
Bila terjadi penyimpangan antara rencana dengan pelaksanaan atau hasil perlu dicari akar permasalahannya untuk kemudian diambil tindakan perbaikan, atau pada fase ini disebut dengan corrective action. Pelaksanaannya bisa langsung, seperti mengadakan re-training dengan fokus materi tertentu yang menjadi titik lemah, atau diterapkan pada pelaksanaan training berikutnya.

Sedangkan bila segala sesuatunya berjalan seperti rencana dan untuk berikutnya akan dilakukan pembaharuan, modifikasi atau langkah antisipasi, bisa dimasukkan dalam fase improvement. Tujuannya adalah agar standard yang sudah terbentuk dapat terus ditingkatkan kualitasnya.

Uraian di atas hanya merupakan gambaran singkat inti dari training management secara umum. Pendalamannya tergantung kompleksitas bidang bisnis dan seberapa jauh uniqueness dari konsep bisnis perusahaan franchisor.

Selanjutnya, fungsi-fungsi pada training management tersebut hendaknya bukan saja diberlakukan pada setiap program initial training yang mencakup segala aspek mengenai produk/jasa dan operasionalnya agar franchisee dapat segera berjalan, namun juga pada program ongoing training yang bisa diberikan setiap saat oleh franchisor. Hal ini karena pada ongoing training sifatnya berupa pengembangan, seperti produk/jasa baru, program pemasaran, pengembangan sistem, dan lain-lain, sehingga memerlukan kesiapan training yang lebih fokus dan teroganisir dengan baik.

Kelancaran jalannya kedua jenis program training tersebut akan semakin menimbulkan kepercayaan franchisee kepada franchisor seperti kepercayaannya pada awal menjatuhkan pilihan pada franchisor, bahwa bukan saja bisnis yang bagus, namun juga dukungan dan komitmen penuh dalam training yang diwujudkan dengan training management yang baik.

Iqbal Kurniadi
Associate Partner IFBM Consultant
Konsultan & Praktisi
HR & Training Dev, Customer Service, Sales, Management System.
Iqbalkurniadi@yahoo.com

Sumber : Majalah Info Franchise, www.majalahfranchise.com

The Great Franchise Experience

By Administrator | April 8, 2008

Melihat keperkasaan merek-merek franchise kelas dunia tentu membuat kita berdecak kagum. Mereka berhasil ekspansi lintas negara, benua dengan jutaan customer. Bagaimana kiat suksesnya?

Siapa yang tak kenal McDonald’s, KFC atau Subway? Hampir bisa dipastikan orang dari segala penjuru dunia mengenalnya. Betapa tidak, McDonalds misalnya dalam sebuah penelusuran tim riset Majalah Info Franchise, resto yang didirikan oleh Dick and Mac McDonald ini sudah hadir di 199 negara di 6 benua dengan jutaan customer.

Subway yang didirikan oleh Fred DeLuca tahun 1965 memiliki 17 ribu gerai lebih, bahkan dalam beberapa tahun bertengger menjadi franchise No. 1 dunia dalam pemeringkatan franchise 500 oleh Majalah Entrepreneur. McDonald’s, Subway ataupun KFC jadi bukti keunggulan konsep franchising untuk ekspansi ke pasar internasional. Bahkan KFC mengembangkan gerai franchise nya melalui waralaba (69%), joint venture (10%) dan anak perusahaan (21%).

Di Indonesia waralaba kelas dunia juga terlihat sangat konsen dalam membangun merek dan komunikasi pemasaran yang jitu. Ini terbukti dari hasil sebuah survey yang dilakukan Nielsen Media Research mereka menggelontorkan miliaran rupiah untuk iklan di media cetak & TV. Sebut saja, Carrefour (70.2 M), McDonald’s (63,0M), KFC (41,0M), Pizza Hut (37,7 M), dll. Wow!

Membangun bisnis franchise hingga mendunia jelas bukan perkara sepele. Disamping memiliki komitmen jangka panjang dalam mengembangkan bisnisnya tentu perlu belajar dari pengelaman merek-merek franchise kelas dunia tersebut. Saya melihat ada beberapa point penting yang saya tangkap pada edisi kali ini, sebagai berikut:

1.Ketika memasuki pasar internasional melalui strategi tiga cara sebagai berikut: Pertama, Mengembangkan dengan pola Franchise Kedua, Mendirikan anak perusahaan di luar negeri. Ketiga, Joint Venture.

2.Membangun training center untuk mencetak tenaga-tenaga profesional. Contoh: McDonalds dengan Hamburger University (HU). HU ini merupakan pusat pelatihan bagi store manager Mc Donald’s di seluruh dunia. Mulai pelatihan 1) basic operation 2) operation administration 3) training system; dan 4) managerial training sebagai store manager yang mencakup aspek marketing, training, operation dan profit dan seterusnya.

3. Membangun komunikasi dan relationship dengan baik dengan franchisee maupun masterfranchise. suksesnya franchisee atau master franchisee adalah sukses franchisor.

4. Selalu adaptasi terhadap perkembangan trend dan inovasi teknologi dan selalu berorientasi kepada pasar, serta melakukan riset berkala untuk memantau perkembangan bisnis baik dari sisi brand Image dan Customer Experience Monitoring.

5. Menerapkan standar operasional sehari-hari yang baik. Contoh: McDonald’s lewat suatu sistem yang dikenal sebagai QSV&V. Yaitu, Quality (kualitas), Service (layanan), Cleanliness (kebersihan) dan Value (nilai tambah yang diberikan kepada customer).

6. Mengembangkan budaya yang mendalam dan kokoh dimana setiap karyawan dapat membangun pola pikir yang berorientasi pada Customer and Sales, memberikan brand differentiation yang sangat kompetitif, menjalin kelancaran hubungan dengan karyawan dan konsumen, mempertahankan konsistensi hasil yang telah tercapai, pada akhirnya akan mewujudkan brand yang paling digemari di oleh konsumen di dunia.

7. Melakukan kegiatan promosi baik lewat iklan di lini atas maupun lini bawah. Bahkan juga melakukan advertising melalui program sponshorship.

Ketujuh hal diatas merupakan The Great Franchise Experience. Saya yakin jika merek-merek lokal mempunyai komitmen jangka panjang dalam mengembangkan ke pasar global, mereka mampu menjadi franchisor tangguh yang akan masuk ke pasar internasional. Kapan franchise Anda mendunia!

Salam Franchise,
Tri Raharjo, Pemimpin Redaksi
Majalah Info Franchise


“Kelabakan” Mengelola Jaringan Waralaba

By Administrator | September 4, 2008


Ketika jumlah outlet kita sudah mencapai puluhan maka franchisor biasanya mulai “kelabakan” mengelola organisasinya. Bagaimana membangun sistem untuk mengontrol bisnisnya?

Di penghujung Agustus lalu, ada sebuah cerita menarik. Sabtu pagi itu, putra saya Raditya mengajak berenang, “ayah enang, ayah enang …” ungkapnya. Maklum putra saya baru berumur dua tahun lebih dan baru belajar bicara. Tak lama kemudian kami bergegas ke kolam renang tak jauh dari kediaman kami. Selama satu jam lebih kami berwisata air untuk “memanjakan” putra kami. Selesai berenang, perut tak bisa diajak kompromi lalu kami mencari makanan ringan. Tampak berbagai jenis makanan tersedia, bahkan dari deretan penjaja makanan beberapa merek franchise juga ada mulai dari crapes, burger, bahkan sampai minimarket.

Lalu, Saya memesan semangkok mie. Sambil menyantap makanan, saya membuka pembicaraan dengan penjualnya. Singkat cerita, dari pembicaraan tersebut terungkap bahwa penjual mie tersebut pernah mengambil usaha franchise makanan (gerobak) “tapi sekarang sudah tutup,” terangnya. Sontak saya kaget, Kenapa tutup Pak? “Kurang laku mas, pembeli lebih suka makan di tempat biasa yang nggak bermerek soalnya gak berkesan mahal. Waktu itu, saya pikir salah tempat tapi ternyata beberapa kali pindah tempat hasilnya sama dan kadang terlambat kirim barangnya,” ujar-nya.

Cerita di atas merupakan bagian kecil dari bisnis waralaba. Namun, menilik cerita di atas ada satu pembelajaran yang positif yang dapat dipetik. Pertama, Pasar franchise atau BO kelas gerobak boleh dikatakan sangat price sensitive dan cenderung tidak peduli dengan merek sehingga untuk mensiasatinya diperlukan strategi harga yang baik. Kedua, lemahnya sistem bisnis yang dibangun sehingga acap kali terjadi keterlambatan pengiriman produk yang berdampak ke penurunan penjualan hingga penutupan gerai. Dalam berbisnis waralaba misi baik saja tidak cukup, tapi perlu didukung oleh sistem bisnis yang kokoh sehingga tercipta hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

Sistem Bisnis

Dalam membangun sistem bisnis waralaba, agaknya kita perlu mendengar perkataan Bambang N. Rachmady dalam bukunya Franchising The Most Practical and Excellent way of succeeding. Bambang menyebut, bahwa McDonalds tidak semata-mata menjual merek kepada franchisee. Merek hanyalah salah satu kunci sukses. Kunci sukses yang lain adalah sistem. Sistem di sini mencakup Manajemen Produksi, Keuangan, Pemasaran, alur pasokan dan logistik (suplay chain), serta sumber daya manusia.

Poin-poin di atas tentunya perlu diperhatikan. Terlebih ketika jumlah outlet kita sudah mencapai puluhan maka franchisor biasanya mulai “kelabakan” mengelola organisasinya. Maka diperlukan sebuah sistem untuk mengontrol bisnisnya agar tetap sustainable dan profitable. Ada beberapa catatan yang saya tangkap ketika bertemu dengan berbagai franchisor dari berbagai bidang usaha. Saya mencoba menyederhanakan langkah-langkahnya:

1. Sebelum membangun sistem dan aturan main, sebaiknya Anda memotret semua problem yang sering timbul di lapangan terlebih baik di organisasi franchisor maupun permasalahan di gerai franchisee guna merumuskan langkah-langkah selanjutnya.

2. Sistem yang akan dibangun sebaiknya win buat franchisor, win juga buat franchisee. Bahkan seorang franchisor yang cerdik, dalam memperbaiki sistem bisnisnya merubah sementara mindset-nya menjadi franchisee sehingga ketemu benang merah dalam membuat system yang baik.

3. Supaya sistem bisnis berjalan dengan baik Anda harus jauh-jauh menghilangkan “ewuh pekewuh” kepada seluruh mitra Anda. Segala sesuatu permasalahan harus mengacu kepada system yang telah ditetapkan.

4. Kontrol dan monitor secara berkala untuk menjamin bahwa system berjalan dengan baik.

5. Gunakan tehnologi IT untuk mempermudah pekerjaan. Baik sistem order, penjualan, stok barang, laporan keuangan, dll.

6. Untuk memperlancar pembayaran baik franchise fee, royalti fee, produk, dll gunakan sistem bloking (memakai IT system), Jadi bila terjadi pembayaran yang tertunda pihak finance dapat mem-bloking pemesanan barang.

7. Sosialisasikan system secara gradual sehingga semua franchisee mau menerima penerapan system untuk kelanggengan dan kemajuan bisnis Anda.

Untuk sukses membangun kerajaan bisnis waralaba, tentu catatan di atas dapat membantu Anda dalam membangun system yang kokoh dan teruji. Selamat Berbisnis & Menjalankan Ibadah Puasa.

Salam Franchise,

Tri raharjo

Think Big Think Franchise

By Administrator | May 16, 2008

Franchise telah mengantarkan banyak merek lokal maupun asing menjadi besar, bahkan mampu ekspansi lintas negara, benua, samudera dengan puluhan juta customer.

Membuat bisnis dapat bertumbuh menjadi besar dengan speed yang kencang memerlukan strategi dan taktik bisnis yang “cespleng”. Franchise diakui sebagai system yang dahsyat dalam mempercepat pertumbuhan outlet atau boleh disebut sebagai the enggine for growth. Sebab, franchise telah mengantarkan banyak merek lokal maupun asing menjadi besar, bahkan mampu ekspansi lintas negara, benua, samudera dengan puluhan juta customer. Karena franchising pada hakekatnya merupakan sebuah konsep memperluas jaringan.

Bicara franchise tak lepas dari kiprah merek global yang telah sukses seperti McDonalds, KFC, Subway, Burger King, A&W, Dunkin Donuts, Pizza Hut, Seven Eleven dan beberapa merek lainnya. McDonalds sebut saja dalam penulusuran tim riset Majalah Info Franchise terbitan April 2008 sudah hadir di 199 negara dan 6 benua dan Subway yang didirikan Fred Deluca tahun 1965 telah memiliki 29 ribu gerai lebih. Merek-merek tersebut diatas jelas buktinya nyata sistem franchise berhasil mengembangkan merek-merek tersebut sukses di pentas global.

Lalu bagaimana kiprah merek lokal? Bicara franchise lokal di Indonesia sebut saja ada Es Teler 77, ILP, Alfamart, Indomart, Primagama, Shop & Drive, Odiva, Multiplus, Apotik K-24, Veneta System, TX Travel, The Auto Bridal ataupun ratusan lainnya. Mereka juga berhasil mengepakan sayapnya melalui system franchise atau waralaba ke seluruh wilayah nusantara. Dalam riset kami Februari lalu, Primagama tercatat berhasil menambah gerai dalam setahun hingga 107 gerai, Furnimart 36 gerai, LP3I 35 gerai, Veneta System 34 gerai dan TX Travel 30 gerai. Tidak hanya itu bahkan Es Teller 77 sudah berhasil merambah Australia & Singapura. Veneta System sebagai merek lokal tinta isi ulang juga berhasil menembus pasar Malaysia. Ini merupakan bukti dan boleh kita acungi jempol atas prestasi tersebut.

Saya amati banyak sisi positif dari bisnis ini, terutama menyangkut hal Manajemen, Permodalan, dan Sumber daya manusia (SDM). Selain itu, Franchise juga merupakan jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada end user melaui tangan franchisee.

Apa sebenarnya keuunggulan bagi pemilik merek atas konsep ini? Pertama, Kecepatan ekspansi dengan modal pihak franchisee. Kedua, Franchisee akan membantu secara knowledge pasar di setiap outletnya. Ketiga, Motivasi franchisee untuk sukses jauh lebih baik dibanding dengan manager. Keempat, franchisor memiliki buying power kepada suplayer. Kelima, Adanya shared advertising dan Ketujuh, mendapat revenue dari franchise fee, royalti fee, penjualan produk, dan biaya lainnya.

Bagi franchisee konsep ini juga diakui memiliki banyak keuunggulan. Franchisee tidak memulai bisnis dari NOL lagi, tetapi menjalankan bisnis yang telah terbukti berhasil baik dari sisi merek, system, maupun berbagai support baik training karyawan & owner, bantuan pra opening atau pasca opening, marketing, produk, share experience dan lain sebagainya.

Lantas, usaha apa saja yang bisa difranchisekan? Semua usaha pada dasarnya bisa difranchisekan atau diwaralabakan. Yang penting harus memenuhi 6 kriteria yang tercantum dalam PP waralaba No.42 tahun 2007 yakni: Memiliki ciri khas usaha, Terbukti sudah memberikan keuntungan, Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, Mudah diajarkan dan diaplikasikan, Adanya dukungan yang berkesinambungan dan Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar.

Bicara franchise tentunya hal yang sangat menarik. Bagi saya bisnis franchise merupakan sumber inpirasi, gagasan & pembelajaran, bahkan boleh dikatan sleep, eat and dream with franchise. Untuk itu saya akan berbagi pengamatan, pengalaman dan pemikiran saya dalam sebuah buku “Think Big Think Franchise” ada 4 pemikiran dalam buku tersebut yang saya yakini dapat berkontribusi untuk usaha Anda menjadi besar melalui franchise. Coming Soon!

Salam Franchise,
Tri Raharjo Pemimpin Redaksi

Johnny Andrean Salon

Johnny Andrean Salon

Information Summary

Founded : 1978 Industry : Salon / Beauty
Website : http://www.johnnyandrean.com Contact : Johnny Andrean
Phone : +62 21 - 585 9545 / 0815 9798000 Fax : +62 21 - 585 9545
E-mail : salon@johnnyandrean.com
Address : Jl. Meruya Selatan No.66 West Jakarta 11650, Indonesia
Estimated Investment : Rp. 150 - 200 Million


Johnny Andrean provides Franchise / Waralaba business opportunity in Indonesia in Salon, Beauty School, and Bridal Industry. Johnny Andrean offers various services and products in beauty industry.

Johnny Andrean is very experienced in salon, now they already have more than 170 outlets around Indonesia. Supported by expert hair stylist and good quality products, Johnny Andrean will give great services to their customers.

Services
- Hair Treatment
- Massage / Spa
- Beauty Care
- Nail Treatment
- Wave Spa
- Wedding Package
- Make Up School

Products
- Hair Care
- Scalp Care
- Hair Styling
- Wedding Products

If you want to open business with Johnny Andrean Salon, you can contact them for the detailed information about the business opportunity.

Martha Tilaar Beauty Gallery

Information Summary

Founded : 1970 Industry : Salon / Spa
Website : http://www.marthatilaar.com Contact : Martha Tilaar
Phone : +62 21 - 319 25921 Fax : +62 21 - 319 35480
E-mail : mbg@cbn.net.id
Address : Jl. KH Wahid Hasyim 19-21, Jakarta, Indonesia
Estimated Investment : Above Rp. 1 Billion



Martha Tilaar Beauty Gallery provides franchise / waralaba business opportunity in Salon and Spa Industry. Martha Tilaar Beauty Gallery is the child company from Martha Tilaar Group that runs in beauty industry.

Services
- Facial Treatment
- Body Treatment
- Make Up and Styling
- Day Spa

Why Join Martha Tilaar
- Strong Brand
- Professional Consultant
- Good Human Resources
- Training Support
- Beauty Trend Information
- Promotion Support
- Administration and Financial System Support
- Operational System Salon and Spa

How to become Franchisee
- Have the Required Investment
- Pay Franchise Fee
- Pay Joining Fee
- Pay Royalty Fee
- Have Good Site / Location